A while ago I went out of town on a media trip. Unlike other fam trips I’d participated in, this one required the journos to pair up and share a room. The girl who asked me to team up with her was looking much better than other women in the group as she didn’t participate in the gossip they were going on about. So I said, “Sure, why not.”

The best part about her was that throughout the day she was mostly glued to her phone so I didn’t have to make small talks. The part I liked the least about her was when, at night after dinner where we got free time and she decided to go on a date, she asked me whether I would mind or not if her boyfriend came and hung out after driving her back.

I said I would. Because I did. I only knew her for a few hours and came midnight I had to share the room with her boyfriend, too? So I told her that wasn’t really a great idea and perhaps she could ask for a separate room. I said all that nicely, or at least I think I did. She eventually decided not to bring her boyfriend in, despite the fact she then forgot about her key card and had to wake me up way past midnight (oh how I regretted giving her my number because I couldn’t go back to sleep afterwards) to let her in.

So we didn’t talk much again until a few hours before we left the hotel (a couple of days later). Believe me, I tried my best to keep the interraction at minimum. Until she asked me if she could borrow my phone charger. This girl must have had more naivete in people ten times as much as I could ever allow myself to have.

She must have been crazy to think that a girl she barely talked to, or should I say, didn’t even bother to talk to, would have ever lent her the charger.

I mean, come on, if you don’t have a charger with and you know you will keep draining the battery out of your flaming phone, at least be decent enough to try and be nice to the person you’re most likely going to ask for help.

Anyway, I said no. Again. Because I’m entitled to say no whenever I’m not in a comfortable situation. I don’t owe her anything and she’s not my Best Friend Forever and I don’t like being used.

And that’s also what I said to a client’s rep today. Same satan’s little spawn with the reason I had left my job last year, irrationally demanding, like an entitled spoilt brat. Only this one came with a new face. What he was asking wasn’t in the contract and me giving him what he wanted (instead of what he needed) would be counter-productive and getting in the way of doing my job, I might have as well spelt out more excuses for him to write down and complain about. I had had that bullshit last year and I’d rather swim through a sea of fire than experience that biblical level of stupidity and recklessness again.

But that’s just me.

End of cynical rant. For today.

On Smoking
The guy I met on a boat across the lake: "So you pretty much are a city girl who doesn't mind travelling solo, loves drinking, will at least try anything once, but don't smoke?"
Me: "Pretty much."
Him: "Why? Have you even tried smoking a cigarette?"
Me: "I did. That's how I know I don't like neither the smoke nor the cigarette. Because I'm very particular about what I put in my mouth."
Him: "Some smokers I know are very particular about food they eat, too."
Me: "That's why whenever they recommend some food or drink, I order something else."
Him: "That's.. mean."
Me: "I am mean."
"If you’re not going to do anything about the answer, don’t ask."

I was going trough one of my old notebooks (real notebooks, not those cute little computers) and found this precious quote. I can’t remember where I got it from as it was from my smartphone-less days (so no photo was snapped to keep the source on visual record), but I’m pretty sure I didn’t come up with that gem. Because I obviously wasn’t even half as wise back then.

If anyone knows who said it, do let me know. Sure, I can just “google” it, that’s how people of our generation work, right? But since I’m ancient at heart, I’ll just wait and see.

Okay, partly because I’m so lazy I’ll let somebody else do it for me.

I just laughed myself to tears after realising that I had mistaken kecubung for kecebong while translating an article on batik. All the way to the end of the said article I was asking myself, “How in the world is an ugly piece of cloth with hundreds of kecubungs on it worth millions rupiah? I’d feel itchy just by staring at it.”

And then after checking the photo to make sure that it’s the correct one, I felt something was wrong. Couldn’t figure out why. So I image-googled kecubung and saw the error of my thought process. As it turns out, a kecubung (amethyst) is not, in fact, an anak kodok. The one I had in my head was kecebong (pollywog).

I’m an embarrassment to my profession.

In the span of two weeks, I’ve learnt to: canoe, fish, cook lobsters in 4 different ways, make spaghetti without pasta machine and sourdough bread (burnt my stomach in the process), make mango wine (and vinegar when it turns bad) as well as marmalade, and process coffee at home (that’s right, from pulping to grinding). And you haven’t even improved your selfie taking skills.

…but a certain photo of a Brazilian old man holding a replica of World Cup trophy so tight while holding back his tears post German match just broke my heart.

Original article can be found HERE

Editorial: Mendukung Jokowi

Tak ada istilah netral ketika hal yang dipertaruhkan besar nilainya. Meski sebisa mungkin kami berusaha tetap objektif dalam setiap pelaporan berita, gaya jurnalistik kami sejak awal selalu berdasar pada landasan moral ketika harus menentukan pilihan penting.

Kami menolak bungkam kala reformasi. Kami pun tak enggan bersikap ketika kekuasaan disalahkaprahkan, atau ketika hak asasi dilanggar.

Orang-orang baik, laki-laki mau pun perempuan, tak seharusnya berdiam diri dan menonton saja. Marahlah ketika diskriminasi berlangsung di depan mata, berdirilah tegak menghadang mereka yang berniat buruk.

Di titik-titik terpenting dalam kelangsungan suatu negara seperti ini, bangsanya dipanggil untuk membuat keputusan serius. Ini lebih dari sekadar mencoblos gambar salah satu kandidat, ini berbicara tentang keputusan moral yang akan memengaruhi nasib negara.

Rusia berhadapan dengan kondisi serupa di tahun 1996, ketika rakyatnya dihadapkan pada pilihan antara pemimpin independen Boris Yeltsin dan Gennady Zyuganov yang merupakan perwakilan Partai Komunis. Saat itu, beban moral melekat pada pilihan antara harapan untuk maju atau bercokol pada kejayaan masa lalu. Mereka memilih harapan.

Dalam lima hari, negara ini juga akan menjatuhkan pilihannya. Pada pemilihan umum yang tiada duanya—sarat akan kampanye pecah belah dan konsekuensi yang mengkhawatirkan—Indonesia harus menentukan masa depan lembaga politik melalui satu tusukan di atas kertas suara.

Selama 31 tahun, Jakarta Post tak pernah sekali pun menyatakan dukungan kepada kandidat atau partai mana pun dalam pelaksanaan pemilihan umum. Meski pun sudut pandang kami jelas, Jakarta Post selalu berdiri lebih tinggi dari konflik politik.

Namun dalam pemilu yang tiada duanya ini, kami terikat secara moral untuk tidak berdiam diri dan menonton saja. Kami menyadari dukungan kami belum tentu memengaruhi suara pemilih. Tetapi kami tidak bisa duduk santai ketika salah satu pilihannya bahkan terlalu meresahkan untuk dilihat.

Kedua kandidat memiliki kualitasnya sendiri sesuai visi dan misi masing-masing. Kedua kubu telah habis-habisan ditelaah dalam tiga minggu terakhir. Para pemilih akan memberikan suaranya kepada salah satu kandidat berdasarkan telaahan tersebut. Namun masih saja ada sekelompok besar masyarakat yang belum memutuskan akan memilih siapa.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan siapa yang sebaiknya jangan dipilih pada pemilu sepenting ini.

Pertimbangan kami sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Jakarta Post: pluralisme, hak asasi manusia, masyarakat sipil dan reformasi.

Kami merasa bersemangat karena salah satu kandidat telah menunjukkan rekam jejak yang jelas dalam menolak kebijakan politik yang diambil berdasarkan kepentingan agama tertentu. Namun pada saat yang bersamaan, kami bergidik ngeri melihat kandidat satunya justru menyandarkan diri pada kelompok Islam garis keras yang ingin mengobrak-abrik keutuhan negara hukum ini. Mereka adalah preman-preman berkedok agama yang memaksakan agenda anti-toleransi, yang tega melancarkan kampanye gelap demi keuntungan sesaat.

Kami juga tak menyangka negeri ini bisa sedemikian pikunnya akan kejahatan terhadap hak asasi manusia yang menempel pada sejarah bangsa. Seseorang yang telah mengakui bahwa dirinya pernah menculik aktivis HAM—baik dengan alasan menjalankan perintah atau karena inisiatif pribadi—tak seharusnya diberi tempat sebegitu dekat dengan tampuk kepemimpinan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Asas demokrasi yang kita pegang tak akan bertahan lama jika masyarakat masih beranggapan bahwa pendekatan militer adalah jawaban untuk menciptakan keamanan. Anggapan inilah yang diimplikasikan oleh salah satu kandidat, bahwa prosedur militer lebih tinggi derajatnya dari supremasi sipil.

Negara ini berhak bangga atas barisan militernya, selama angkatan berseragam ini menyadari bahwa mereka merupakan abdi pemerintahan yang berdemokrasi dan memihak pada rakyat sipil.

Ketika salah satu kandidat membuka jalan untuk meninggalkan sejarah kelam bangsa ini, kandidat yang lain malah ingin menghidupkan kembali roh Soeharto.

Yang satu memiliki komitmen untuk menghapus kolusi kekuasaan dan bisnis, yang lain masih berkutat dalam transaksi politik bergaya Orde Baru yang jelas-jelas menodai semangat reformasi.

Hampir tak pernah dalam sejarah pemilu, pilihan yang harus diambil sejelas ini. Baru kali ini salah seorang kandidat memenuhi semua kriteria negatif dalam daftar kami. Makanya, kami harus melakukan sesuatu.

Karena itu, Jakarta Post merasa wajib untuk menyatakan dukungan secara terbuka terhadap pencalonan Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden pada Pemilu 9 Juli nanti. Tak mudah bagi kami memutuskan untuk menyatakan dukungan ini.

Namun, kami yakin bahwa secara moral, dukungan ini tepat.

1