…but a certain photo of a Brazilian old man holding a replica of World Cup trophy so tight while holding back his tears post German match just broke my heart.

Original article can be found HERE

Editorial: Mendukung Jokowi

Tak ada istilah netral ketika hal yang dipertaruhkan besar nilainya. Meski sebisa mungkin kami berusaha tetap objektif dalam setiap pelaporan berita, gaya jurnalistik kami sejak awal selalu berdasar pada landasan moral ketika harus menentukan pilihan penting.

Kami menolak bungkam kala reformasi. Kami pun tak enggan bersikap ketika kekuasaan disalahkaprahkan, atau ketika hak asasi dilanggar.

Orang-orang baik, laki-laki mau pun perempuan, tak seharusnya berdiam diri dan menonton saja. Marahlah ketika diskriminasi berlangsung di depan mata, berdirilah tegak menghadang mereka yang berniat buruk.

Di titik-titik terpenting dalam kelangsungan suatu negara seperti ini, bangsanya dipanggil untuk membuat keputusan serius. Ini lebih dari sekadar mencoblos gambar salah satu kandidat, ini berbicara tentang keputusan moral yang akan memengaruhi nasib negara.

Rusia berhadapan dengan kondisi serupa di tahun 1996, ketika rakyatnya dihadapkan pada pilihan antara pemimpin independen Boris Yeltsin dan Gennady Zyuganov yang merupakan perwakilan Partai Komunis. Saat itu, beban moral melekat pada pilihan antara harapan untuk maju atau bercokol pada kejayaan masa lalu. Mereka memilih harapan.

Dalam lima hari, negara ini juga akan menjatuhkan pilihannya. Pada pemilihan umum yang tiada duanya—sarat akan kampanye pecah belah dan konsekuensi yang mengkhawatirkan—Indonesia harus menentukan masa depan lembaga politik melalui satu tusukan di atas kertas suara.

Selama 31 tahun, Jakarta Post tak pernah sekali pun menyatakan dukungan kepada kandidat atau partai mana pun dalam pelaksanaan pemilihan umum. Meski pun sudut pandang kami jelas, Jakarta Post selalu berdiri lebih tinggi dari konflik politik.

Namun dalam pemilu yang tiada duanya ini, kami terikat secara moral untuk tidak berdiam diri dan menonton saja. Kami menyadari dukungan kami belum tentu memengaruhi suara pemilih. Tetapi kami tidak bisa duduk santai ketika salah satu pilihannya bahkan terlalu meresahkan untuk dilihat.

Kedua kandidat memiliki kualitasnya sendiri sesuai visi dan misi masing-masing. Kedua kubu telah habis-habisan ditelaah dalam tiga minggu terakhir. Para pemilih akan memberikan suaranya kepada salah satu kandidat berdasarkan telaahan tersebut. Namun masih saja ada sekelompok besar masyarakat yang belum memutuskan akan memilih siapa.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan siapa yang sebaiknya jangan dipilih pada pemilu sepenting ini.

Pertimbangan kami sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Jakarta Post: pluralisme, hak asasi manusia, masyarakat sipil dan reformasi.

Kami merasa bersemangat karena salah satu kandidat telah menunjukkan rekam jejak yang jelas dalam menolak kebijakan politik yang diambil berdasarkan kepentingan agama tertentu. Namun pada saat yang bersamaan, kami bergidik ngeri melihat kandidat satunya justru menyandarkan diri pada kelompok Islam garis keras yang ingin mengobrak-abrik keutuhan negara hukum ini. Mereka adalah preman-preman berkedok agama yang memaksakan agenda anti-toleransi, yang tega melancarkan kampanye gelap demi keuntungan sesaat.

Kami juga tak menyangka negeri ini bisa sedemikian pikunnya akan kejahatan terhadap hak asasi manusia yang menempel pada sejarah bangsa. Seseorang yang telah mengakui bahwa dirinya pernah menculik aktivis HAM—baik dengan alasan menjalankan perintah atau karena inisiatif pribadi—tak seharusnya diberi tempat sebegitu dekat dengan tampuk kepemimpinan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Asas demokrasi yang kita pegang tak akan bertahan lama jika masyarakat masih beranggapan bahwa pendekatan militer adalah jawaban untuk menciptakan keamanan. Anggapan inilah yang diimplikasikan oleh salah satu kandidat, bahwa prosedur militer lebih tinggi derajatnya dari supremasi sipil.

Negara ini berhak bangga atas barisan militernya, selama angkatan berseragam ini menyadari bahwa mereka merupakan abdi pemerintahan yang berdemokrasi dan memihak pada rakyat sipil.

Ketika salah satu kandidat membuka jalan untuk meninggalkan sejarah kelam bangsa ini, kandidat yang lain malah ingin menghidupkan kembali roh Soeharto.

Yang satu memiliki komitmen untuk menghapus kolusi kekuasaan dan bisnis, yang lain masih berkutat dalam transaksi politik bergaya Orde Baru yang jelas-jelas menodai semangat reformasi.

Hampir tak pernah dalam sejarah pemilu, pilihan yang harus diambil sejelas ini. Baru kali ini salah seorang kandidat memenuhi semua kriteria negatif dalam daftar kami. Makanya, kami harus melakukan sesuatu.

Karena itu, Jakarta Post merasa wajib untuk menyatakan dukungan secara terbuka terhadap pencalonan Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden pada Pemilu 9 Juli nanti. Tak mudah bagi kami memutuskan untuk menyatakan dukungan ini.

Namun, kami yakin bahwa secara moral, dukungan ini tepat.

1

If you think it’s a good idea to bury irisan cabai rawit hijau in tumis buncis, you’re a satan’s little spawn of chaos. That’s how trust issues develop, right there.

When you’re the only one who cares about the quality of your work, so what?

It’s not your loss. Go to work, do the mediocre job you’re assigned with, go home, get paid, and enjoy the money. Feel free to claim your rights and say no to overtime when it’s not your fault. Their poor planning is never your emergency. Your life is way beyond work. Whatever it is you love to do, don’t let work stand in the way.

Ever.

On a certain word..
Her: "I read it."
Me: "You read what?"
Her: "What you said about how the word 'kece' being used to describe someone or something was the first sign of arse-kissing."
Me: "So?"
Her: "Care to elaborate?"
Me: "Easy. When you say that something or someone is 'kece', it's because you don't feel 'ikhlas' to say 'great', yet you can't be honest either and say it's, or they're, crap because you still 'butuh'."
Her: "And this comes from personal experience?"
Me: "You ever heard me use that word?"
"What can I say? Payback’s a bitch.
But here’s the thing:
So am I."
Kami Garcia, Margaret Stohl, Dangerous Creatures (via the-secrets-behind-the-covers)
8
1

Sunday [n]
When it’s much easier to perform a resurrection spell and raise the dead remote from the grave than to get a couple of new batteries.